Tak Ada yang Benar-Benar Milik Kita

sumber gambar: NYM

Pada suatu Sabtu pagi (28/03) sembari menyeruput wedang pokak pemberian sanak keluarga dari Batu, saya membuka aplikasi Quran untuk murajaah. Suasana awalnya terasa begitu tenang dan nikmat, tidak tampak tanda-tanda yang mungkin akan terjadi sesuatu. Namun tak ada angin tak ada hujan, gawai yang saya geletakkan di atas toples rempeyek sekonyong-konyong menghitam, menampilkan logo Android dengan tulisan “menghapus”.

        Dengan perasaan kalut dan gamang, saya mencoba mencerna apa yang terjadi—panik dikit gak ngaruh. Selanjutnya bar persentase itu merayap pelan menghapus jejak digital dalam gawai, semua berlangsung begitu saja. Sesuai dugaan, sistem Android memang sedang melakukan reset pabrik paksa, meluruhkan segala memori, materi, hingga draf tulisan yang sedang saya rancang, buat, dan simpan rapi. Ternyata yang selama ini saya kira berada dalam kendali penuh genggaman tangan dapat lenyap seketika. Bagaimana bisa? Kenapa? Lalu, sejatinya apa yang benar-benar kita miliki? Saya pun tak tahu. Semua terlanjur terjadi—dalam hitungan detik—dan saya tidak bisa membatalkannya.

Setelah melalui serangkaian proses “memulai”, gawai telah menampilkan layar awal beranda. Tapi tunggu dulu, wallpaper yang terpampang masih sama—gambar Dewa 19 yang saya buat dengan aplikasi PicsArt suatu waktu yang lalu. Apakah ada yang tersisa? Apakah tidak jadi reset pabrik? Secercah harap yang begitu kecil tersungging. Saya mulai cek, semuanya, tak ada yang tertinggal, di folder sampah atau mana pun, hampir tak ada yang terlewati. Ternyata masih sama, tak ada yang berbekas—kecuali wallpaper tadi—benar-benar tak ada yang selamat, saya menghela napas panjang. Oke, ini berarti saatnya benar-benar pasrah.

Kosong, perasaan yang kemudian menjalar. Mengapa kekosongan ini terasa begitu membebani? Barangkali, ada yang perlu diluruskan pada definisi “memiliki” yang selama ini dipercayai. Saya terlalu pongah menyandarkan kata ganti milik pada segala hal yang saya bawa. Padahal, di dunia yang fana ini, tak ada yang benar-benar mutlak milik kita. Bahkan napas yang kita hirup saja, harus dihembuskan lagi. Segala hal yang melekat pada diri kita, nyatanya tidak ada yang benar-benar kita punya. Semuanya terasa dekat, tapi tidak benar-benar tinggal. Terlebih hal-hal yang bersifat eksternal, sejatinya memang di luar kendali—seperti harta, orang terdekat, atau data di ponsel pun hanyalah titipan semesta. Kita tidak seberkuasa yang kita kira.

Dari perenungan itu, saya kembali teringat satu ayat Tuhan. Ayat yang dari kecil sampai sekarang selalu terngiang ketika ada pengumuman di masjid tentang orang meninggal. Dulu kecil, saya memaknai ayat itu begitu sederhana. Ayat yang seperti khusus ditujukan perihal kematian. Padahal tidak. Maknanya lebih jauh dan mengakar. Kepemilikan adalah hal mutlak Tuhan. Sementara kehilangan adalah keniscayaan manusia. Musibah itu dapat berbentuk apa saja. Entah itu kehilangan, melepaskan, maupun tuntutan merelakan yang tentu saja level rasa sakitnya berbeda bagi setiap orang. Ada kehilangan yang diiringi isak tangis di pemakaman, kehilangan jabatan atau harta benda yang membuat lepas kendali, hingga kehilangan data akibat gawai yang tiba-tiba mereset dirinya sendiri. Atau, ada juga yang kehilangan kekasih karena tiba-tiba ia dijodohkan dengan orang lain dan membuat frustrasi—anggap saja yang terakhir intermeso, meski nyatanya efek patah hatinya sama-sama membuat dunia terasa gelap sejenak. Namun, terlepas dari seberapa remeh bentuk kehilangan itu, esensinya selalu sama: sebuah proses penarikan kembali. Mengapa kita begitu menderita? Mungkin yang membuat menderita bukan tentang kehilangannya, tapi perasaan bahwa kita seharusnya bisa mencegahnya. Dan boleh jadi karena kita merasa memegang kendali penuh atas hidup yang sebenarnya hanya titipan dan suatu saat pasti ditarik kembali oleh Sang Pemilik.

Setelah riuh pasrah yang sedikit mereda, saya menyadari sesuatu yang menggelitik. Beberapa gigabita kapasitas telah dibeli mahal-mahal agar manusia terhindar dari penyakit lupa, seolah dapat memindahkan seluruh tugas mengingat dari otak ke dalam sebuah mesin. Ironisnya, yang kita percaya sebagai “penyimpan ingatan” justru paling mudah terhapus ketimbang ingatan di kepala manusia. Sistem Android hanya butuh hitungan menit untuk menghapus ribuan riwayat pesan, foto, dan berkas-berkas berat hingga tak bersisa. Sementara itu, ingatan di kepala manusia—termasuk kenangan menyakitkan tentang seseorang—terkadang butuh waktu bertahun-tahun lamanya hanya untuk sekadar memudar dan kemudian lupa.

Pada akhirnya, saat gawai itu kembali menyala dan memulai awal, ia seakan memaksa untuk merelakan masa lalu. Mungkin itu cara Tuhan membuat saya agar bisa beranjak (move on), menutup masa lalu itu dengan dipaksa, terpaksa, dan kemudian terbiasa. Saat semuanya terhapus bersih yang tersisa bukanlah sebuah akhir, melainkan kanvas kosong yang siap untuk memulai cerita baru, hidup di masa kini, dan tidak terus-menerus menengok galeri masa lalu. Terkadang untuk benar-benar melangkah maju, kita memang butuh jalan baru yang bersih. Tidak semua yang hilang perlu kembali. Beberapa cukup dilepas—agar kita bisa benar-benar berjalan tegap.

# الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (Al-Baqoroh; 156)


3 komentar:

  1. Saya tidak pernah kehilangan apapun karena saya tidak merasa memiliki apapun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus berarti dan itulah kuncinya. Rasa "tidak merasa" yang masih saya pelajari dan tumbuhkan dalam diri saya.

      Hapus
  2. Tulisan ini mengingatkan saya masa sekarang, mantap

    BalasHapus