![]() |
| Ilustrasi oleh Gemini AI |
Karya: Ahmad Nur Ihsan (7A)
Saat pertama kali datang ke asrama itu aku bertemu dengan alumni sekolahku yang dulu, dia bernama Heri. Aku diajak berkeliling di asrama itu agar mengetahui ada apa saja di sana. Saat sampai ke tempat gudang aku seperti melihat ada yang mengintip di balik pintu dan saat masuk ke gudang aku merasakan hawa yang tidak enak, aku pun bilang kepada temanku: "Heri, kenapa di sini hawanya agak gimana-gimana gitu?". Heri menjawab: "Oh, iya aku belum bilang kepadamu kalau di gudang ini pernah ada peristiwa tragis." Aku pun bertanya-tanya kepada Heri apa peristiwa tragis itu. Heri pun mengajakku pulang ke kamar untuk menceritakan kejadian itu.
Heri menceritakan kepadaku tentang
peristiwa tragis itu. "Jadi dulu pernah ada salah satu santri masuk ke gudang
untuk mengambil meja yang disuruh ustadznya. Saat masuk ke gudang dan mengambil
meja, dan saat hendak keluar gudang tiba-tiba pintu gudang terkunci. Tiba-tiba
terdapat pisau yang melayang di hadapan santri itu, tiba-tiba terdapat asap
yang tiba-tiba berubah menjadi sosok KUNTILANAK yang sedang memegang
pisau itu dan santri itu ditusuk pas di jidatnya. Santri itu meninggal." [innalillahi
wa inna ilaihi rojiun].
Dan setelah kejadian tersebut sudah
banyak diketahui oleh para santri, sekarang gudang ini menjadi sepi karena
takut jika mengalami hal yang sama seperti itu. "Ooohh, pantes saja aku
tadi melihat ada yang mengintip dari balik pintu." Heri berkata:
"Kalau ada yang mengintip, jangan dilihat biarkan saja dan berdoa yang
banyak."
Saat keesokan harinya Heri mengajak
aku pergi ke gudang untuk mengambil buku/kitab untuk acara pada malam Jum'at.
Saat sampai di gudang hawa merinding menyengat, bulu kudukku sampai berdiri
saking merindingnya, kita berdua pun berdoa dan izin kepada penunggunya. Kita
berdua pun masuk ke dalam gudang dan mengambil kitab. Dan saat hendak keluar
terdapat pisau melayang hampir tepat mengenai kepalaku, kita berdua kaget dan
segera keluar dari gudang itu.
Pada malam hari kami belum bisa
tertidur, kita berdua pun bercerita tentang pengalaman dulu. Jam menunjukkan
pukul 02.00. Tiba-tiba "TOK... TOK... MAS BEBI... MAS BEBI... NENG BILA
MAU MASUK...". Terdengar suara yang membuat bulu kuduk kami berdiri alias
merinding. Suara itu terdengar bukan di pintu kamar kami, tetapi di pintu kamar
sebelah yaitu kamar Mas Bebi.
Mas Bebi adalah senior kita berdua,
dan Neng Bila adalah pacar Mas Bebi saat pondok/asrama ini digabung antar putra
dan wanita. Ternyata dulu Mas Bebi menghamili Neng Bila dan Mas Bebi tidak mau
tanggung jawab, dan membiarkan Neng Bila sendirian menjalani kehamilannya.
Tetapi saat Neng Bila sudah frustasi dia bunuh diri di gudang dengan cara
menusuk perutnya dengan pisau. Makanya sampai saat ini Neng Bila gentayangan di
dalam gudang menjadi KUNTILANAK.
Kami berdua segera mengintip ke
jendela untuk melihat Neng Bila. Benar saja saat mengintip ke jendela terlihat
sosok perempuan yang perutnya seperti orang hamil dan penuh darah. Tiba-tiba
Mas Bebi keluar dari kamar dan melihat Neng Bila dalam keadaan tersebut, dan
Neng Bila pun menikam/menusuk Mas Bebi menggunakan pisau. Acara pada malam
Jum'at pun ditunda karena untuk menguburkan Mas Bebi dan mendoakannya. Saat dikuburkan
aku mendengar suara lirih:
"Rasakan itu, Mas... aku senang melihatmu seperti
itu."
Suara itu terdengar seperti di atas pohon, aku pun menengok ke atas dan melihat ada pohon beringin. Saat aku melihat ke atas terdapat sosok perempuan yang tertawa yaitu NENG BILA.
TAMAT.
Catatan: Melalui sedikit penyuntingan dan penyelarasan akhir oleh guru pengampu dengan mempertahankan orisinalitas atau keautentikan karya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar