Jarum jam baru menunjuk angka tiga sore, tapi denyut jalanan sudah mulai berubah ritme—tampak berbeda dari sore sepulang sekolah di bulan-bulan biasa. Gerobak-gerobak yang entah bersembunyi di mana pada hari biasa, kini mulai didorong ke pinggir jalan. Terpal-terpal plastik dibentangkan, meja-meja lipat ditata berjejer. Di sudut dekat alun-alun yang kulewati, terlihat seorang penjual mulai menyusun etalase dagangannya dan mempersiapkan apa yang akan disajikan. Fase persiapan, sebuah panggung yang sedang dibangun sebelum pertunjukan hasrat dimulai.
Satu jam berlalu—pukul lima sore—intensitas
kendaraan meningkat tajam. Asap bakaran mulai mengepul menutupi pandangan,
berpadu dengan aroma adonan tepung yang baru menyentuh minyak panas. Di meja
yang lain, aneka bentuk dan warna buah dikumpulkan dalam satu wadah raksasa,
menunggu diguyur es batu dan sirup manis. Orang-orang mulai menepi, langkah
kaki mulai melambat, menimbang-nimbang mana yang lebih dulu memancing selera.
Pukul lima sore, panggung itu akhirnya mencapai klimaks.
Kepadatan manusia benar-benar tumpah ruah dan antrean pembeli mengular di
hampir setiap lapak. Suara klakson kendaraan yang terjebak macet bersahutan
dengan suara pembeli yang tak sabar minta pesanannya disegerakan. Di titik ini,
perut yang kosong mulai mengambil alih akal sehat. Tanpa sadar kita membeli
bukan lagi karena butuh, tapi karena mata terlalu mudah tergoda menerjemahkan
rasa lapar—menjadi nafsu. Melihat ini jadi ingin, melihat itu tak kalah mau,
akhirnya semua terasa perlu dibeli. Tangan penuh tentengan plastik-plastik
berisi makanan dan minuman.
Memandangi tumpah ruahnya manusia sore itu,
rasanya keliru jika kita buru-buru memberi penilaian. Keriuhan war takjil
sejatinya adalah denyut yang menghidupkan tradisi, sebuah perayaan kecil
masyarakat menyambut Ramadan dengan sukacita. Barangkali, di dalamnya ada pula
kegembiraan, kebersamaan, dan kehangatan yang tak selalu bisa
disederhanakan—tentang menutup hari dengan sesuatu yang dinanti. Tidak ada yang
salah dengan budaya yang telah lestari puluhan tahun itu. Ujian sesungguhnya
sama sekali tidak terletak pada apa yang dijajakan di atas trotoar, melainkan
pada bagaimana mata kita menerjemahkan pertahanan yang rapuh menjadi
keserakahan di dalam kepala.
Namun di balik keriuhan membawa pulang
kantong-kantong itu, ada sesuatu yang perlahan terasa ganjil. Sebuah pertanyaan
menggelitik muncul dan mengusik: apakah kita sedang bersiap untuk “membuka”
puasa, atau barangkali sekadar merencanakan sebuah “pelepasan”? Puasa
mengajarkan sunyi dan pengendalian, tapi mengapa menjelang berbuka justru
menjadi paling gaduh? Apakah lapar yang ditahan seharian hanya menjadi hasrat
yang menumpuk? Apakah kita benar-benar menyederhanakan nafsu atau hanya
menundanya hingga waktu berbuka tiba?
Sebagaimana namanya, 'membuka' sejatinya adalah
sebuah proses menyingkap sesuatu yang sebelumnya tertutup secara perlahan, ada
jeda, kelembutan, dan kesadaran penuh dalam tindakan tersebut. Namun
entah sejak kapan, momen magrib seakan bergeser maknanya. Kita jarang
benar-benar 'membuka' puasa, kita lebih sering—tanpa sadar—'melepaskan' nafsu
yang seharian dikurung paksa. Seolah-olah puasa adalah bendungan nafsu, dan
magrib adalah saat katupnya boleh dijebol secara leluasa.
Puncak ironi dari semua ingar bingar sore itu
terjadi tepat ketika azan magrib berkumandang—ujian yang sesungguhnya. Satu per
satu aneka rupa takjil dilahap dengan kalap, menuntut balas atas rasa lapar
seharian. Namun anehnya, setelah semua manis dan gurih bertumpuk di perut, yang
hadir bukanlah kepuasan, melainkan sekadar rasa begah yang hampa. Nafsu yang
menuntut balas ternyata belum cukup puas. Barangkali, kesadaran dari rasa begah
itu menuntut kita agar bisa menyederhanakan nafsu. Maka selanjutnya, apakah
kita akan kembali berlebihan atau mulai menjaga batas ini?
Puasa memang menahan nafsu amarah dan syahwat,
tapi ujian paling nyata setiap hari justru terjadi pada kendali tubuh pukul enam
sore. Perut yang kosong belasan jam sejatinya butuh kelembutan, bukan gempuran
makanan. Segala ilusi kelaparan yang dibangun berjam-jam oleh deretan gerobak
takjil nyatanya bisa runtuh hanya dengan segelas air putih atau sebiji kurma.
Puasa tidak hanya tentang menahan, tapi juga tentang kendali diri. Sedangkan
berbuka bukanlah ajang balas dendam, melainkan medan latihan mengenali diri.
Pada akhirnya, rasa begah nan hampa yang hadir itu menyadarkan kita bahwa ada makna yang mungkin keliru diterapkan. Kita seringkali lupa bahwa 'membuka' puasa bukanlah semata 'melepaskan' rantai nafsu. Momen magrib sejatinya adalah sebuah titik reset sekaligus jeda, bukan pelampiasan yang membabi buta. Puasa mengajarkan kita bahwa yang diperjuangkan tidak hanya tentang menahan di siang hari, tapi tentang kelola diri saat petang tiba. Sedangkan berbuka adalah merayakan kemenangan kecil dengan kerendahan hati, mengembalikan hak tubuh secukupnya dan bukan memanjakan ego semaunya. Itulah hal-hal sederhana yang justru menghadirkan rasa cukup (qanaah) dan tak akan pernah bisa dibeli dari bisingnya jalanan sore yang hanya hadir sebulan sekali dalam setahun. Dan mungkin, dari situlah kita belajar bahwa yang perlu dikendalikan bukan lapar di perut, melainkan keinginan di dalam diri.

Mantep, biar sholatnya makin khusyuk bang
BalasHapusPada akhirnya, gerobak-gerobak dan meja-meja lipat yg hadir tersusun rapi kini perlahan lenyap, seakan kembali bersembunyi dalam sunyi. Selamat Idulfitri.
BalasHapus#Kostaman
Nah, hingar bingar kampung ramadan yg makin menjamur ini sebenarnya sebuah kegelisahan tersendiri.
BalasHapus