Catatan Kehampaan: Peringatan untuk Kita!


“Tuhan telah mati”, begitulah pernyataan Nietzsche yang pernah menggemparkan dunia. Bagi Nietzsche, “Tuhan” adalah simbol dari sumber nilai, moralitas, dan makna hidup yang absolut. Nietzsche dalam bukunya, The Gay Science, bercerita ketika ada orang gila berlari masuk pasar dan teriak-teriak mencari Tuhan. Si orang gila bilang, “Kitalah yang membunuhnya…kalian dan aku!”. Sebenarnya Nietzsche bukan merayakan kematian Tuhan, melainkan takut dunia bakal jatuh ke dalam nihilisme, sebuah kondisi ketika manusia merasa hidup tak lagi berarti, hampa, dan tak punya arah.

Kondisi seperti itu ternyata pernah dirasakan oleh Billie Eilish. Ia merasakan hampa dan tak punya arah atau istilah untuk penulis adalah writer’s block. Istilah tersebut merujuk pada keadaan seseorang yang mengalami hambatan kreatif. Keadaan yang membuat Billie sempat kehilangan kemampuan menulis lagu dan mempertanyakan tujuan hidupnya sendiri.

Suatu ketika Greta Gerwig, sutradara film Barbie, memperlihatkan cuplikan kasar (rough cut) dari film tersebut kepada Billie dan kakaknya, Finneas. Mereka diminta menulis lagu dari perspektif karakter Barbie yang sedang mengalami krisis identitas saat masuk ke dunia nyata. Beberapa hari setelah lagu tersebut jadi, Billie baru menyadari bahwa liriknya ternyata sangat personal dan mencerminkan perasaanya sendiri yang merasa menjadi “produk” atau “objek” dari industri musik.

Film Barbie menggunakan lagu “What Was Made I For?” sebagai lagu temanya. Lagu tersebut hampir seluruhnya ditulis Billie dalam semalam setelah mendapat inspirasi dari cuplikan kasar film Barbie. Video musiknya pun disutradari oleh dirinya sendiri. Ada beberapa hal menarik yang perlu dibahas dari lagu “What Was Made I For?”. Berikut detail pembahasannya.

 

a.      Simbol Masa Lalu

Kalau kalian melihat video musik dari lagu “What Was Made I For?”, kalian akan menyadari bahwa Billie sepanjang video memperlihatkan pakaian-pakaian berukuran mini yang ternyata itu adalah replika pakaian asli yang pernah dikenakan Billie di dunia nyata seperti saat konser atau acara resmi (Grammy Awards, Oscar, dan sebagainya). Akhir dari video musik itu adalah Billie yang mengemas replika pakaian ke dalam koper dan ketika Billie sudah beranjak pergi ternyata masih ada yang tertinggal di meja dan dia bergegas kembali untuk mengambilnya. Sama seperti konsep Amor Fati atau mencintai takdir, Billie tidak memilih membakar pakaian-pakaiannya, melainkan melipat dan mengemas rapi dalam koper.

b.      Nihilisme

Masuk pada verse pertama kita dikejutkan dengan pengakuan Billie. Bait pertama lagu itu berbunyi seperti ini.

 

I used to float, now I just fall down

I used to know but I'm not sure now

What I was made for

What was I made for?

 Dahulu Billie merasa dirinya melayang, tetapi sekarang dia justru terjatuh. Melayang di sini dimaknai ketika Billie merasa hidupnya sudah nyaman karena ditopang oleh nilai-nilai yang sudah disediakan, seperti agama dan moral. Manusia pada posisi seperti itu merasa aman, karena ada yang menahan agar tak terjatuh.

Namun, “perasaan” aman tersebut seketika runtuh (fall down). Billie pada momen itu menyadari bahwa nilai-nilai yang dia pegang dulu ternyata hilang. Kesadaran akan hal demikian biasanya mengakibatkan seseorang merasa jatuh ke dalam jurang hampa karena ia menyadari bahwa makna hidup tidak inheren, tidak ada dari sananya. Persis seperti ketakutan Nietzsche ketika seseorang sudah mulai kehilangan nilai absolut pada dirinya maka dia akan terjatuh ke dalam jurang nihilisme.

Kalau kalian perhatikan pada lirik selanjutnya, Billie seakan mengalami krisis ketidakpastian. ‘I used to know / but I’m not sure now’ benar-benar menggambarkan sosok Billie yang sedang ragu. Dia tahu harus melakukan apa, tapi dia sendiri ragu pada apa yang sudah dia tahu sebelumnya. Nietzsche menyebutnya sebagai masa nihilisme pasif, kondisi ketika seseorang kehilangan arah karena kompas yang lama sudah rusak, tapi dia belum bisa membuat kompas yang baru.

Klimaks pada verse pertama lagu tersebut adalah ketika Billie “menggugat” Tuhan dengan bertanya ‘what was made I for?’. Billie menanyakan seperti itu karena memang sedang mengalami kondisi yang memprihatinkan sebab dia merasa bahwa dirinya hanya “objek” dari industri musik. Sama seperti Barbie, dia adalah boneka yang memang dibuat sebagai mainan. Ketika Barbie mempunyai perasaan manusia, dia jadi cacat secara fungsi, tapi hidup secara eksistensi. Billie merasa ada kemiripan dengan Barbie yang tumbuh besar di bawah sorotan publik.

c.       Moralitas Budak

Mungkin kalian pernah mendengar nasihat kalau manusia sebaiknya hidup atas keinginan sendiri, bukan keinginan orang lain. Lirik ‘I was an ideal / Looked so alive / turns out I'm not real’ menjelaskan bahwa Billie sadar dirinya “ideal” untuk orang lain. Ia “terlihat hidup” karena sudah menjalankan peran dengan sempurna. Identitas Billie didefinisikan oleh tuannya (industri, penggemar, atau publik). Namun, bagi Nietzsche adalah kematian jiwa. Billie merasa dirinya hanyalah cerminan dari keinginan orang lain, bukan dari kehendak dirinya sendiri.

d.      Kehendak untuk Berkuasa

Barbie dibuat untuk dimainkan. Siapa yang membelinya, ia punya kehendak untuk melakukan apa saja kepadanya, entah itu dibanting, dibakar atau ditarik sampai putus pun, si boneka tak punya hak untuk protes, karena fungsinya memang hanya untuk memuaskan kehendak orang lain. Persis seperti pengakuan Billie dalam lirik ‘just something you paid for’ yang menggambarkan posisi terendah dari martabat manusia, yakni menjadi benda yang memiliki harga, tetapi kehilangan nilai. Ia merasa telah membiarkan dirinya “dijual” demi memenuhi idealisme pasar. Nietzsche memandang hal itu sebagai sebuah nihilisme aktif. Billie tidak lagi menutup mata terhadap kenyataan bahwa ia telah menjadi komoditas. Justru dengan mengakui kepalsuan identitasnya sebagai “produk bayaran", ia sedang mengambil langkah pertama untuk menghancurkan topeng tersebut dan merebut kembali kehendak atas dirinya sendiri.

e.       Ruang Kosong

Ketika Billie mengatakan ‘I don't know how to feel / but I wanna try’, saat itu juga ia sedang menumpahkan gelas penuh air yang terisi oleh kehendak orang lain (industri, penggemar, atau publik). Pada titik ini Billie bukan lagi seseorang yang identitasnya berdasarkan “tuannya”, melainkan ia mencoba membangun identitasnya sendiri meskipun tak mudah. Lirik tersebut adalah bukti bahwa kehendak atas dirinya sendiri masih ada, belum mati, meskipun pernah dipadahmkan oleh kehendak orang lain. Kalau menurut Nietzsche, Billie sudah selangkah menuju Übermensch, manusia unggul yang berani mencoba untuk menemukan makna hidupnya sendiri.

f.        Penerimaan (Amor Fati)

Billie menutup reff bukan dengan ‘someday, I will be happy’, tetapi dengan ‘someday, I might’. Tampak jelas bahwa Billie sudah sangat menerima takdirnya meskipun ada kata “mungkin” di dalamnya. Billie siap menerima jika ia gagal lagi, salah lagi, dan sakit lagi. Kalau kata orang, Billie sudah nggak ambil pusing soal tujuan hidupnya sekarang. Ia mulai sadar kalau tak semua hal ada jawabannya langsung dan ia menikmati setiap proses perubahannya.

 

Sebenarnya lagu "What Was I Made For?" adalah sedikit contoh dari banyaknya peringatan untuk kita bahwa hidup yang hanya dihabiskan untuk menyenangkan orang lain pasti akan berujung pada rasa hampa. Kita sering kali terlalu sibuk menjadi apa yang dunia inginkan sampai akhirnya lupa bagaimana caranya menjadi diri sendiri. Billie Eilish dalam lagu tersebut seolah berbisik, “Hai, menjadi ‘objek’ orang lain tak mengenakan. Kamu harus punya kehendak atas diri sendiri. Jangan sampai dirimu jatuh ke dalam kehampaan.” Perkataan itu bukan sekadar bisikan, tapi mungkin sebuah tamparan keras supaya kita segera sadar dari kenyamanan palsu.

Ada satu bagian pada verse kedua yang menurutku menjadi “jembatan” mengapa pada akhirnya Billie menerima semua yang sudah terjadi pada dirinya. ‘Takin’ a drive’, bagian yang menurutku menjadi simbol “kesendirian”. Setiap pemikiran besar berasal saat kita sendiri. Benar, kan? Aku dan kamu pasti pernah mengalami, mendapat ide/pemikiran luar biasa saat sedang sendiri, entah sendiri secara fisik maupun batin.

Jangan biarkan diri kita terlalu lama kehilangan arah, makna hidup, dan jauh dari moralitas baik. Mengakui diri kita hampa dan tidak nyata adalah langkah awal, bukan tujuan akhir. Hancurkan pemikiran-pemikiran yang mengerdilkan kita, sebab dari situ kita bisa membangun fondasi yang kuat untuk menuju tujuan akhir, bukan hanya diam dan putus asa.

Ingat lagi lirik ‘but I wanna try’, bahwa di balik rasa hampa ada kehendak untuk kembali merdeka, kehendak untuk selalu mencoba. Merdeka bukan berarti kita sudah mendapat semua jawaban, melainkan keberanian untuk terus melangkah. Jangan pernah ragu, yakinlah pada diri kita sendiri bahwa kita tak akan pernah menyerah pada kehampaan.

2 komentar:

  1. Saya kira ini hanya sebatas review lagu, tapi ternyata interpretasinya jadi berlapis-lapis dan memuat banyak renungan. Salut.

    BalasHapus
  2. Jangan terlalu lama menjadi bayangan keinginan orang lain, sebab jiwa yang terus dipaksa menyenangkan dunia akan lupa caranya pulang pada dirinya sendiri. Jika hari ini terasa hampa, mungkin itu tanda bahwa hatimu sedang meminta untuk dilahirkan kembali.

    BalasHapus