Pelangi di Tepi Senja

 

Ilustrasi oleh Gemini AI

Karya: Abhizar Al Khoir (7A)


 (Orientasi)

Matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan keemasan. Awan-awan tipis tampak seperti sapuan kuas di atas kanvas biru. Di tepi danau yang tenang, seorang anak laki-laki bernama Dito sedang duduk termenung sambil memandang pantulan dirinya di air yang bening.

(Komplikasi)

Dito seorang anak yang baru saja ditinggal ayahnya. Dito merupakan seorang anak yang ceria, tetapi semenjak ditinggal ayahnya dia menjadi anak yang pendiam. Dia termenung di tepi danau melihat matahari terbenam. Ayahnya meninggal kemarin hari di saat Dito sedang senang bersekolah, tiba-tiba Dito mendapatkan kabar bahwa ayahnya telah meninggal. Di saat Dito kecil, Dito dan ayahnya suka bermain bersama setiap sore. “Ayo, Nak, tendang bolanya!” kata ayah. Dito pun menendang dan "Goool!" kata Dito, mereka bermain dan tertawa bersama.

Ayahnya yang selalu rajin bekerja dan Dito yang ikut berangkat untuk bersekolah, saat itu Dito baru berumur enam tahun. Dito sangat rajin belajar sehingga saat ujian tiba Dito adalah anak yang pertama selesai, semua ujian dapat dilewati. Pengumuman ujian pun tiba, dan Dito mendapatkan ranking pertama. Dito pulang dengan membawa piala dengan hati yang senang, sesampainya di rumah Dito mengatakan “Ayah, aku mendapatkan ranking satu!”. Ayahnya pun menjawab “Dito memang anak yang hebat”.

(Klimaks)

Dito semakin bertumbuh hingga berumur 12 tahun dengan kehidupan yang berbeda. Dito sudah ditinggal ayahnya tiga hari, Dito yang dulu sangat rajin, kini rajin itu mulai menghilang dari hidupnya. Setiap sore Dito selalu pergi ke tepi danau merenung seperti biasanya. Kini Dito sudah lulus dari SD dan setiap Dito berangkat sekolah kini ia sering terlambat. Dito pun kini menjadi malas untuk bersekolah. Ibunya yang selalu memberi motivasi kepada Dito.

Dito berangkat sekolah seperti biasanya, setelah pulang sekolah Dito mulai membantu ibunya berjualan. Dito membantu mulai dari pukul 15.00. Pada pukul 17.00 Dito mulai merasakan lelah dan akhirnya Dito beserta ibunya pun pulang untuk beristirahat. “Alhamdulillah, Nak, dagangan hari ini laris,” ujar ibunya. “Alhamdulillah, Bu.” ujar Dito. Dito pun pergi ke dalam kamar untuk tidur. Keesokan harinya Dito menjalankan aktivitas seperti biasanya. Namun berbeda dengan sebelumnya, dagangan hari ini sedikit yang terjual. Dito kini mulai teringat lagi dengan sang ayah, dan ibunya juga yang kini sedang mengalami sakit, namun Dito tetap bersabar.

Keesokan harinya Dito berangkat ke sekolah sambil membawa keranjang dagangan, uang yang dihasilkan dari dagangan tersebut untuk membeli obat untuk ibunya. Semua cobaan berhasil dilalui oleh Dito. Dua hari kemudian Dito menjalani hari-harinya seperti biasanya sampai di pukul 17.00. Dito pulang dari jualannya dan kaget melihat ibunya yang sedang memasak makanan kesukaan Dito. “Ibu sudah sembuh?” kata Dito. “Alhamdulillah sudah, Nak.” jawab ibunya. Dito memakan dengan lahap, setelah makan Dito pergi tidur, dan Dito bermimpi sedang bermain bersama ayahnya.

(Resolusi)

Keesokan harinya pada saat sore hari Dito pergi ke tepi danau dan membayangkan apa yang diimpikan semalam sambil menangis, lalu ibunya datang. “Lihatlah, Nak, pelangi yang indah diikuti matahari yang terbenam.” Dito pun sadar bahwa ayahnya sudah cukup lama meninggal, kini ia harus melupakan kejadian itu lagi. Satu minggu berjalan Dito sudah tidak merasa sedih dan rajin seperti dulu lagi. Tamat.

 


Catatan: Melalui sedikit penyuntingan dan penyelarasan akhir oleh guru pengampu dengan mempertahankan orisinalitas atau keautentikan karya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar