Membangkitkan Gairah Membaca yang Mati Suri


 

Belakangan, saya merasa ada yang hilang dari diri saya. Apakah itu karena kesibukan baru yang menyita waktu? Atau karena paparan gawai yang memaksa atensi untuk terus menatapnya? Atau memang rasa malas yang makin melanda? Saat itu saya masih belum yakin apa alasannya. Hal yang hilang itu adalah gairah membaca. Hal yang sejatinya saya coba pupuk sejak lama tetapi kemudian perlahan terkikis.

Dahulu saya selalu menyempatkan atau menargetkan untuk setidaknya khatam minimal satu buku setiap bulan­—entah fiksi atau nonfiksi, meskipun kebanyakan buku yang saya baca memang fiksi. Target yang sebenarnya sederhana dan tidak muluk-muluk, tetapi ternyata (sekarang) itu tak sesederhana kelihatannya. Saya teringat ketika masih di pondok pesantren. Ketika sama sekali belum terpapar gawai seperti sekarang, betapa produktifnya intensitas bacaan saya. Berbanding terbalik dengan sekarang—menyedihkan. Lain dulu, lain sekarang.

Sekarang memasuki 6 bulan ini saya disibukkan dengan kegiatan baru sebagai guru di salah satu sekolah. Hal itu membuat saya kemudian menyesuaikan diri dan beradaptasi terhadap keseharian yang dijalani, termasuk rutinitas membaca yang belum dapat waktu pasti (jatah). Meskipun demikian, harusnya hal tersebut tak menjadi alasan jika bisa mengatur ritme dengan baik. Sebuah ironi tentu saja ketika seorang pengajar bahasa Indonesia yang setiap saat menanamkan disiplin baca-tulis, tetapi ia sendiri segan membaca. Saya tahu persis itu salah, dan tahu persis penyebabnya apa. Namun, entah kenapa begitu enggan untuk memperbaikinya. Pada titik ini, saya cukup yakin penyebabnya apa—bukan kesibukan, bukan gawai, melainkan memang kemalasan.

 November lalu, materi kami sampai pada teks naratif. Di akhir pembelajaran—lebih tepatnya akhir kompetensi dasar—seperti biasa, ada penugasan. Saya tugaskan mereka untuk membuat cerpen dengan tema bebas dan minimal tiga halaman. Saya bebaskan mereka berimajinasi se-‘liar’ mungkin. Cerita yang sederhana pun sangat boleh. Mereka tampak antusias dalam kegiatan mengarang ini. Bahkan dalam pelajaran lain yang tidak ada PR di tempat kami, saya adakan di tugas kali ini. Saya minta tugas mereka dilanjutkan di asrama, karena percaya ide tidak serta-merta muncul begitu saja dalam satu waktu—tepatnya setiap orang beda-beda, ada yang langsung dapat ilham, ada juga yang butuh waktu. Permintaan melanjutkan di asrama juga karena saya merasa ide akan muncul di mana saja dan justru akan mentok jika hanya dikerjakan di satu tempat (kelas).

Belakangan baru saya sadari, dengan sedikit menyesal, ternyata tiga halaman itu lumayan banyak. Jika per anak tiga halaman dengan jumlah murid setiap kelas berkisar tiga puluh lebih dikali lima kelas (rombel), maka 3x150+ jumlah siswa kelas VII. Saya harus membaca setidaknya 450 halaman tulisan mereka. Dulu ketika saya berikan tugas itu ke mereka, mereka protes. Sekarang setelah tugas mereka selesai, saya yang protes—ini kebanyakan. Rasanya seperti menggali lubang kuburan sendiri.

Saya memulainya dengan menarik napas panjang, bersiap. Dengan jumlah halaman yang variatif antara 2–9 halaman, pasti akan menguras tenaga. Sempat terpikir rasanya untuk hanya membaca sekilas saja, tidak penuh. Mungkin dari gaya bahasanya kalau enak berarti bagus, mungkin dari tulisan tangannya kalau rapi berarti oke, atau mungkin dari jumlah halamannya kalau banyak berarti mantap. Akan tetapi, bukankah itu tak adil? Mereka sudah berusaha menulis—setidaknya sebagian besar­—maka tugas saya menghargainya dengan penuh dan sungguh-sungguh. Dalam waktu itu saya merasa jadi paling sibuk dari lainnya, bahkan kadang pulang lebih larut dari biasanya.

Rasanya seperti membaca antologi raksasa. Cerita mereka sangat beragam. Ada yang menulis genre horor, fantasi, misteri, dan aksi. Selebihnya lebih banyak menulis genre slice of life (realita kehidupan), mungkin mereka lagi malas memikirkan ide? Tak apa. Tulisan tangannya pun beragam. Yang bagus membuat saya betah membaca, yang seperti ceker ayam membuat saya menghela nafas dalam dan istigfar sambil mengelus dada. Alurnya? Ada yang sederhana yang penting selesai, ada yang cukup absurd dan membuat saya ketawa sendiri, ada yang konsepnya menarik tetapi eksekusinya mentah, ada yang eksekusinya bagus tetapi terhenti di tengah jalan, ada juga yang alurnya lumayan tetapi tulisan tangannya memaksa mata saya lebih berusaha lagi. Yang lain? Ada yang sekadar menyalin cerita tentang film/serial yang pernah mereka tonton, seperti One Piece atau Attack On Titan, secara ingatan itu sangat bagus karena ditulis dengan detail, tetapi secara imajinasi itu kosong karena tidak ada orisinalitas di dalamnya. Namun, beberapa lainnya ada yang membuat saya terkejut: ide menarik, konsep matang, eksekusi bagus, dapat memainkan emosi pembaca, bahkan dengan ending yang mengecoh (plot twist). Cara bercerita yang membuat saya tersenyum dan tidak terprediksi akan hadir pada tuisan bocah berumur 13 tahunan ini. Di beberapa halaman bahkan saya berhenti sejenak dan menikmati, tak mau tergesa menyelesaikan, menikmati tulisan yang membuat kagum.

Apa pun tulisan mereka, tetap saya hargai karena itu adalah proses cipta kreatif yang melibatkan otak untuk berpikir. Tulisan yang polos dan jujur dengan segala kurang dan lebihnya. Sampai akhirnya saya mendapatkan satu poin penting dari tulisan-tulisan tersebut: ada banyak harap yang disandarkan pada karya yang mereka cipta, terutama tulisan yang bersifat sentimental dan pribadi. Meskipun tak semua tulisan adalah pengalaman atau perjalankan pribadi mereka, saya bantu aminkan saja harapan-harapan itu. Ternyata setiap tulisan bagaimana pun bentuknya, selalu punya kedalaman makna dan niai tersendiri. Ada kejujuran, keberanian, serta imajinasi yang belum terkotak-kotakkan.

Kembali di sela-sela kegiatan mengoreksi, saya menyadari satu hal. Ada sesuatu yang kembali dalam diri, gairah membaca yang saya rindukan sejak dulu. Saya membaca lagi, bukan dari novel best seller yang dijual Gramedia atau Mizanstore, tetapi dari tulisan tangan sederhana dan penuh coretan dari mereka. Mungkin saya tak menyadarinya, tetapi gairah itu kembali lagi. Makin banyak yang dibaca, justru makin menikmatinya, bukan malah tergesa menyelesaikan—meskipun dengan kualitas tulisan yang sangat beragam. Ternyata gairah itu tidak hilang, ia hanya tidur sejenak dan kemudian dibangunkan oleh realitas.

Sekarang semuanya telah selesai saya koreksi. Aneh, rasanya ingin menjenguk kembali buku-buku yang tergeletak dan berdebu karena belum selesai terbaca. Bukan karena seketika rajin, tetapi karena saya ingat rasanya: ketika duduk begitu khusyuk, kepala bekerja, dan imajinasi dimainkan. Nikmat yang begitu menghanyutkan. Saya merasa seperti hidup kembali.

Pada akhirnya, alarm yang membangunkan mati suri itu bukan dari bacaan ambisius seperti buku-buku populer dari penulis beken atau rekomendasi terbaru di Goodreads, tetapi dari tulisan sederhana anak-anak yang polos, jujur, dan apa adanya. Guru juga bisa belajar dari muridnya, sebagaimana saya yang belajar dari mereka. Semangat yang saya tanamkan kepada mereka, harusnya juga saya tanamkan kepada diri saya sendiri. Cerita tak harus sempurna untuk layak dibaca, hanya cukup ditulis dengan jujur agar dapat dirasakan.

2 komentar: